Hari-hari belakangan ini kita terus disuguhi berita mengenaskan tentang
tragedi kemanusiaan yang terjadi di Mesir akibat dari perseteruan
politik perebutan kekuasaan.
Diawali dari pelengseran Mursi, presiden yang terpilih secara sah
melalui sistem pemilihan langsung melalui kudeta militer. Kini hari-hari
di Mesir terus dihantui oleh kisah tragis pelanggaran hak asasi
manusia.
Rakyat terbantai setiap hari, kedua pihak berseteru, bersitegang soal
data jumlah korban untuk dipolitisir. Pihak pemerintah menyebut angka
kecil, pihak pendukung Mursi menyebutkan angka yang jauh lebih besar.
Tak ada yang mau mengalah.
Di negeri ini, dimotori oleh para kader partai franchise dari partai
pendukung Mursi, didukung oleh media seperti Ar-rahmah, VOA, Fimadani,
Dakwatuna dan media sekelasnya, gambar-gambar vulgar foto korban yang
tewas akibat bentrok dengan tentara Mesir dipublikasikan di berbagai
lini dunia maya. Ada orang yang otaknya terburai, yang kepalanya bolong
semua ditampilkan TANPA SENSOR. Dan semuanya dimaksudkan apalagi kalau
bukan untuk mengais simpati dan mendiskreditkan pihak lawan yang
dicitrakan sebagai sekelompok manusia barbar tanpa peri kemanusiaan yang
tega mengorbankan rakyat sendiri.
Sebaliknya, demonstran pendukung Mursi oleh kelompok ini digambarkan
sebagai kelompok yang sangat sopan santun dan cinta damai, demo tapi tak
lupa shalat sambil membaca Qur’an.
Melihat apa yang terjadi di Mesir, sebenarnya kita pun pernah mengalami
situasi yang kurang lebih sama, meskipun tidak sama persis kronologis
dan polanya.
Pelengseran Mursi,mengingatkan kita pada apa yang terjadi di negeri ini
pasca kejatuhan Soeharto melalui gerakan reformasi. Tahun 1999, ketika
situasi politik masih labil, kita sukses melaksanakan pemilu multi
partai. Pemilu yang diikuti 48 partai tersebut dimenangi oleh PDIP. Tapi
meskipun menang PDIP tidak otomatis boleh menunjuk Presiden.
Berdasarkan aturan konstitusi saat itu, Presiden dipilih oleh MPR.

D
Sidang Umum MPR, malah Abdurahman Wahid yang diusung poros tengah yang
terpilih menjadi Presiden mengalahkan Megawati yang diajukan oleh PDIP.
Proses berikutnya, apa yang dialami Gus Dur, Presiden pertama yang
terpilih pasca lengsernya Diktator Soeharto mirip dengan yang dialami
Mursi Presiden pertama yang terpilih pasca lengsernya dictator Hosni
Mubarak.
Akibat perseteruan politik, banyaknya kepentingan politik lawan-lawannya
yang terganggu akibat naiknya Gus Dur sebagai Presiden pada 23 Juli
2001 Abdurahman Wahid atau Gus Dur pun diturunkan di tengah jalan,
dengan alasan berbagai skandal yang dituduhkan kepadanya yang sampai
hari ini belum terbuktikan di pengadilan.
Saat itu situasi di Indonesia mirip dengan di Mesir sekarang. Para
pendukung fanatik Gus Dur siap mempertahankan hak Gus Dur sebagai
presiden mati-matian. Sebagaimana rakyat Mesir pendukung Mursi, para
pendukung Gus Dur juga siap berkubang darah untuk mempertahankan
kekuasaan Gus Dur yang menurut mereka telah dirampas secara tidak sah.
Tapi di sinilah perbedaan nyata ditampilkan oleh Gus Dur dan Mursi.
Saat ini sebagaimana kita ketahui bersama, Mursi dan partai pendukungnya
bukan hanya rela, tapi ikut mengompori supaya rakyat pendukungnya
bentrok dengan militer dan pendemo anti Mursi. Korban berjatuhan setiap
hari, banyaknya korban jatuh, darah yang tertumpah seolah menjadi bahan
bakar tambahan untuk melawan lebih keras lagi dan menumpahkan korban
lebih banyak lagi. Sehingga semakin banyak simpati yang datang dan suara
memojokkan lawan juga datang makin kencang. Rakyat Mesir terus
terbantai, entah sampai kapan.
Sementara di sini, ketika Gus Dur dilengserkan dan pendukungnya siap
mati untuk membela demi mempertahankan posisi Gus Dur sebagai Presiden,
apa yang terjadi.Dengan santai Gus Dur mengatakan “Di negeri ini, tak
ada jabatan yang harus dipertahankan mati-matian” dan kemudian pamit
dari Istana dengan mengenakan celana pendek, sikap yang memberikan kesan
kuat kepada kita semua betapa tidak berharganya jabatan presiden itu
untuk sampai dipertahankan dengan pertumpahan darah. Dan selamatlah
negeri ini dari perang saudara yang kalau sampai terjadi, entah sampai
kapan. Sikap kenegarawanan yang luar biasa
… Semoga Allah melapangkan kuburmu Gus….
Dan kalau kita lihat
kembali lebih jauh ke belakang, ternyata bukan hanya Gus Dur, tapi
Soekarno, ketika diusir dari istana juga mengatakan: ” lebih baik saya
yang robek dan hancur daripada bangsa saya harus perang saudara”.
Bahkan Soeharto yang sudah sangat mendunia karena kekejamannya ternyata juga bersikap sama LEGOWO ketika diturunkan….
Wah….luar biasa, ternyata meskipun tidak hafal Al-quran para pemimpin
negara kita ini cukup membanggakan dan pantas menjadi teladan dunia
forum kompasiana.