Gusdur, siapa yang tak mengenal
beliau. dari sosoknya, islam mulai terlihat sosok ramahnya. meski
terkadang kontroversial. pemikiran - pemikirannya membuka jalan baru
bagi para muslim Ia diturunkan dengan tuduhan yang hingga sampai saat
ini tidak dapat di buktikan. namun dengan keikhlasannya, Ia mengalah dan
keluar dari istana negara menggunakan celana pendek dan berkata " tidak
ada jabatan di dunia ini yang pantas di pertahnkan mati - matian "
KATA MUTIARA BIJAK GUSDUR
kata Mutiara Bijak dari Gusdur ini saya suguhkan untuk anda, agar kita dapat menerma perbedaan di antara sesama bangsa Indonesa. Kata bijak ini semoga juga dapat meredam kemarahan - kemarahan yang terjjadi hingga menimbulkan pertengkaran hingga tawuran antar masa.
“Guru spiritual saya adalah realitas. Dan guru realitas saya adalah spiritualitas”
“Kalau Anda tidak ingin dibatasi, janganlah Anda membatasi. Kita sendirilah yang harusnya tahu batas kita masing – masing”
“Kemajemukan harus bisa diterima, tanpa adanya perbedaan”
“Tidak penting apa pun agama atau
sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang,
orang tidak pernah tanya apa agamamu”
“Tidak boleh ada pembedaan kepada setiap warga negara Indonesia berdasarkan agama, bahasa ibu, kebudayaan, serta ideologi”
“Menyesali nasib tidak akan mengubah keadaan. Terus berkarya dan bekerjalah yang membuat kita berharga”
“Kalau sekarang ini ada yang menjelekkan nama Islam, kita didik agar membawa nama Islam yang damai”
“Agama mengajarkan pesan-pesan damai dan ekstremis memutarbalikannya”
“Dari sudut akidah, hak orang Islam nemang lebih tinggi daripada penganut agama lain. Namun, Indonesia bukan negara Islam”
“Kita ini celaka. 70% tanah air
kita laut, tetapi garam saja impor. Kalau bodoh sih gak apa-apa, tapi
kalau disengaja kok bodoh. Saya tahu impor setiap satu ton dapat 10
dollar. Jadi, impor itu hanya menguntungkan yang impor”
“Keragaman adalah keniscayaan akan hukum Tuhan atas ciptaan-Nya”
“Kita butuh Islam ramah, bukan Islam marah”
“Jadinya, kita menjadi bangsa
yang jadi bahan tertawaan orang. Masak, Timor Leste yang kayak itu saja
bisa permainkan kita” (Kutipan Gus Dur yang menanggapi isu adanya
pembantaian dan kekerasan di Timor Leste yang dilakukan oleh
pemerintahan Indonesia)
“Pemahaman apa pun yang berbeda
apalagi bertentangan bisa menjadi bibit – bibit perpecahan apalagi
bertentangan, bisa menjadi bibit-bibit – bibit perpecahan dan persatuan
bangsa”
“Bukankah dengan demikian menjadi
jelas bagi kita bahwa menerima perbedaan pendapat dan asal – muasal
bukanlah tanda kelemahan, melainkan menunjukkan kekuatan”
“Keberhasilan seorang pemimpin diukur dari kemampuan mereka dalam menyejahterakan umat yang mereka pimpin”
“Marilah kita bangun bangsa dan
kita hindarkan pertikaian yang sering terjadi dalam sejarah. Inilah
esensi tugas kesehjahteraan kita, yang tidak boleh kita lupakan sama
sekali”
“Sejarah lama kita sebagai bangsa
memang sangat menarik. Rasa tertarik itu timbul dari kenyataan bahwa
yang ditulis sering tidak sama dengan yang terjadi. Dengan kata lain,
sejarah masa lalu, sering dijadikan alat legitimasi kekuasaan”
“Dalam hidup nyata dan dalam
perjuangan yang tak mudah, kita bukan tokoh dongeng dan mitos yang gagah
berani dan penuh sifat kepahlawanan. Kita, yang bukan tokoh mitos, yang
punya anak, istri dan keluarga, mengenal rasa takut. Meskipun takut
kita jalan terus, berani melompati pagar batas ketakutan tadi, mungkin
disitu harga kita ditetapkan”
“Pertanyaan dasarnya adalah,
sanggupkah kita sebagai bangsa mengembangkan sikap meninggikan
kepentingan bersama itu dan mengalahkan kepentingan pribadi para
pemimpin bangsa kita?”
“Mau tidak mau kita lalu harus memilih antara dua versi sejarah. Versi
perbedaan agamakah, atau versi pertentangan akibat ambisi-ambisi
pribadi? Dari sinilah kita lalu terjebak oleh keharusan membaca sejarah
lama dalam versi yang berbeda-beda. Ini adalah akibat langsung akan
kesenangan bangsa kita atas lambang-lambang kesejarahan. Catatan sejarah
hampir-hampir tidak dibuat, dengan demikian kita lalu harus meraba-raba
masa lampau kita sendiri. Inilah yang seharusnya kita lakukan, bukan
lalu sekadar melafalkan tahun-tahun dan nama-nama dalam ‘pelajaran’
sejarah di sekolah-sekolah kita. Kita bukanlah mengingat-ingat tahun
kejadian, melainkan memahami sejarah sebagai sebuah proses”
“Saya tidak khawatir dengan
dominasi minoritas. Itu lahir karena kita yang sering merasa minder.
Umat Islam (mungkin karena faktor masa lalu) sering dihantui rasa
kekalahan dan kelemahan”
“Mistifikasi atau fakta sejarah
memang terjadi dalam perjalanan panjang setiap bangsa. Tugas para
sejarahwan adalah memisahkan fakta sejarah dari mistifikasi, dan dengan
demikian, memisahkan kenyataan sejarah dari legenda. Kegagalan seorang
sejarahwan untuk melakukan pemisahan seperti itu, hanya akan berujung
pada penafsiran yang salah atas sejarah. Karena itu, seringkali kita
harus berhati-hati terhadap kecenderungan untuk mencari tema-tema besar
dalam memahami sejarah masa lampau kita sendiri. Terutama dalam
memisahkan mana yang faktual dan mana yang mitos dari ‘kebesaran’
kerajaan-kerajaan masa lampau”
“Tidak ada TKI yang ilegal, yang ada negera memperlakukan pembiaran-pembiaran terhadap tumpah darah bangsanya”
berikutnya silahkan anda baca tentang berguru pada guru bangsa : sebuah
kesamaan antar Gusdur dan Soekarno yang tidak gelap jabatan Presiden.
klik disini